Health Akbar Post
Kesehatan/Hipertensi didefinisikan oleh Joint National Commite on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure ( JNC ) sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya, mempunyai rentang dari tekanan darah normal tinggi sampai hipertensi maligna ( Nursing Care Plan : 35 ).

Hipertensi menurut WHO adalah bila tekanan darah sistolik lebih dari 160 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 95 mmHg, tidak membedakan usia dan jenis kelamin ( Perawatan Medikal Bedah 2, 1996 :659 ). Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa hipertensi terjadi apabila tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 95 mmHg.

Tekanan darah dipengaruhi oleh curah jantung dan tahanan perifer. Pada tahap awal hipertensi essensial, curah jantung meninggi, sedangkan tahanan perifer normal. Secara mudah tekanan darah dapat dituliskan dengan formulasi sebagai berikut :

TEKANAN DARAH = CURAH JANTUNG X TAHANAN PERIFER.

Curah jantung yang meninggi, tahanan perifer normal disebabkan oleh karena peningkatan aktifitas tonus otot. Pada tahap selanjutnya, curah jantung kembali normal. Sedangkan tahanan perifer meningkat, akibat terjadinya refleks auto regulasi. Oleh karena curah jantung meningkat, terjadi konstriksi sfingter prekapiler, yang mengakibatkan curah jantung menurun dan peninggian tahanan periper. Oleh karena peningkatan tahanan perifer, pada hipertensi primer terjadi secara bertahap dan dalam waktu yang lama.

Sedangkan proses auto regulasi seharusnya terjadi dalam waktu singkat. Maka ada faktor lain disamping faktor hemodinamika yang berperan terhadap peningkatan tekanan darah primer. Kelainan hemodinamik tersebut diikuti pula kelainan struktural mengenai pembuluh darah dan jantung. Pada pembuluh darah terjadi hipertropi dinding sedangkan pada jantung terjadi pula penebalan dinding intraventrikuler.

Selain faktor hemodinamik ada berbagai faktor seperti faktor genetik, aktivasi saraf simpatis, metabolisme natrium dalam ginjal, gangguan mekanisme pompa natrium ( sodium pump ) dan faktor renin – angiotensin, aldosteron pun mempunyai bukti terhadap kaitan dengan peningkatan tekanan darah pada hipertensi essensial ( gambar 2 ).

Selain faktor tersebut di atas, di dalam tubuh terdapat sistem yang berfungsi mencegah perubahan tekanan darah secara akut akibat gangguan sirkulasi dan mempertahankan tekanan darah dalam jangka panjang. Berdasarkan kecepatan reaksi, sistem kontrol syaraf dibedakan menjadi golongan yang bereaksi segera, kurang cepat dan yang bereaksi jangka panjang.

Jadi jelas, bahwa sistem kontrol tekanan darah sangat kompeks dimulai dengan kontrol yang bereaksi segera diikuti oleh sistem yang bereaksi kurang cepat kemudian oleh sistem kontrol yang menetap dan jangka panjang.

Download Asuhan Keperawatan Hipertensi

ASKEP 1 Download
ASKEP 1 Download
ASKEP 1 Download

Posting Komentar

[random][video]
Diberdayakan oleh Blogger.